Arifinkasugaromio blog


aku dan keajaibanku
Mei 5, 2009, 9:43 pm
Diarsipkan di bawah: curhatan

sesaat mataku terpejam, terbayang olehku masa-masa perjuangan dulu meniti cita-cita untuk kuliah.

pada awalnya, aku sangat dilarang keras oleh kedua orang tuaku untuk melanjutkan kuliah. hal ini karena ortu membutuhkan regenerasi usahanya. aku dipercaya untuk meneruskan bisnis keluargaku sejak turun temurun.
namun, dengan sedikit demi sedikit aku bujuk ortu untuk memberikan kesempatan padaku agar dapat mengenyam bangku kuliah dengan alasan belum ada satupun keluarga besar ortuku yang berkuliah. akhirnya, aku diizinkan berkuliah, tapi di cirebon. hal ini belum membuatku lega. karena waktu itu, cita-cita berkuliah di universitas bergengsi semisal UI atau ITB. perlahan, ku bujuk kembali ortuku.

entah angin apa yang membuat ortuku tiba-tiba sangat tertarik untuk mengkuliahkanku keluar kota. awalnya, beliau tertarik padaku untuk mencoba PTK (perguruan tinggi kedinasan). alhamdilillahnya, beliau tetap memberiku kesempatan mencoba PTN.

aku diberi 4 kesempatan dari ortuku, yaitu mendaftar ke PMDK UNDIP, UM POLBAN, USM STIS dan USM STAN. sepertinya ada yang kurang, aku mendaftar ikut program beasiswa BMU yang ditawarkan oleh SMA lewat guru matematika (terima kasih pada pak syafi’i). setelah melengkapi syarat-syarat dan lulus seleksi, aku lmemperoleh BMU dan segera ke bandung (ITB) untuk registrasi.

di POLBAN aku dapat skor 700 hingga meloloskanku pada jurusan telekomunikasi. aku punya pegangan sebelum akhirnya di SPMB lewat BMU aku diterima di pilihan pertama (teknik mesin UI). syukur aku panjatkan kehadirat ALLAH Swt.

bukan mulus jalan yang aku lalui, banyak AGHT yang ku rasakan. di UI aku terpukul saat diwajibkan untuk membayar uang masuk sekitar Rp. 27.175.000,-. beberapa kali aku disidang kajur, pak harinaldi (saat itu), untuk meminta keringanan biaya tersebut. akhirnya, 27 juta menjadi 9,33juta turun lagi menjadi 9,3 juta dan terakhir menjadi 700ribu. maha besar Allah yang mengetahui kemampuan hambanya.

aku telah lulus menjadi mahasiswa UI, maksudnya lulus keuangannya.
namun aku teringat kembali pada pengumuman tanggal 6 agustus 07 di situs www.stis.ac.id, aku lulus USM STIS tahap I (3 tahap). karena teringat betapa besar keinginan ortu melihatku kuliah di kedinasan. aku dengan hati penuh ikhlas, mengikuti tahapan test STIS berikutnya dan juga mengikuti test STAN tanggal 4 agustus 07.

hari demi hari ku lalui sebagai mahasiswa FTUI, tanggal 18 agustus 07 adalah rangkaian test stis tahap 2 digelar, hari ini bertepatan dengan ultahku yang ke-18, aku harap keajaiban membawaku menggapai cita. benar saja, pada papan pengumuman kelulusan tahap 2,namaku tertera.
akhirnya, dengan berat hati aku menutup lembaran-lembaran hari-hariku di UI.

aku tutup lembaran tentang indahnya ospek di FTUI, melihat pembangunan TekSas, berjalan kaki 20 menit untuk mendapat bikun, mimpi jadi orator di istana merdeka, asrama MAB, mas aziz yang tidur pagi hari, fredy teman akrab dari tabanan bali, widhi teman sekelompok ospek, dll. aku tutup dengan sangat dan sangat berat hati.

mungkin pilihan terbaik adalah membahagiakan ortuku, namun Allah Swt tetap menyayangiku dan memberiku kesempatan berkuliah di UI hanya 2 bulan. Alhamdulillah.

kini, aku langkahkan kakiku tanpa keraguan di STIS. hal ini lebih baik daripada semuanya. semoga…

terima kasih Allah… engkaulah yang selalu melindungi perjalanan ku saat itu…
perjalanan cirebon-bandung-jakarta, perantauan pertamaku dan tanpa diantar-jemput ortu dan saudara.

sujud ku atas keajaiban kecilku yang selalu ada di tiap helaan nafasku…



sepuluh tahun sunyi
Mei 5, 2009, 4:19 pm
Diarsipkan di bawah: curhatan

Ku pandangi kalender. Oh.. 20 april? Ku buka lagi halaman berikutnya. Oh.. Mei? Sejenak ku mematung, teringat sesuatu. Dan… Astaghfirullah, aku teringat peristiwa sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 11 mei 1999. Saat hujan airmata menyambut sesosok badan kaku yang diantarkan ambulance menuju rumahku. Ayahku… Wafat kecelakaan saat berusaha menghidupi anak dan istrinya. Sedihku menggelegar dan tangisku memecah cakrawala.
Ayah.. Mengapa engkau pergi saat aku belum bisa apa-apa? Padahal aku punya cita-cita luhur yang inginku sembahkan untukmu. Madinatul munawwarah. Iya.. Aku ingin memberangkatkan engkau kesana dengan usaha perah peluhku.
Tekadku telah bulat. Alhamdulillah, walaupun hanya 1000/hari ku sisihkan uang sakuku, namun keistiqomahannya akan ku jaga demi cita-cita ini. Demi sisa hidupku dan demi jiwaku yang merindukanmu..