Arifinkasugaromio blog


Jakarta-Cirebon
Agustus 4, 2009, 7:12 pm
Diarsipkan di bawah: cerpen

hari ini adalah hari yang ku nanti-nanti, pasalnya aku akan pulang kampung setelah dua minggu penuh penat akan UTS.

bingung aku memilih sarana transportasi apa yang akan ku pakai. akhirnya setelah mempertimbangkan banyak hal, aku naik kereta Tegal Arum (tentu untuk berhemat). Alhamdulillah dan Subhanallah… pasalnya aku bahagia karena hanya merogoh 13rb saja untuk sampai ke cirebon tapi lemes juga menghadapi perjuangan yaitu berdiri tanpa sandaran dari Jakarta hingga Haurgeulis, sekitar 2,5 jam.

dalam benakku, berpikir positif bahwa ALLAH pasti akan mengganjarku dengan kebaikan jika aku bersabar menghadapi ini semua.

haurgeulis tiba, sebagian penumpang berbondong untuk turun dan akhirnya aku bisa duduk juga.
sama halnya dengan seorang gadis mungil berparas imut yang berhadapan duduknya denganku, sebut saja icha namanya. dara kelahiran 3 april 1992 ini didampingi ayahnya yang duduk di sampingku.
memecah kesepian, ayah icha melempar serentetan pertanyaan yang mesti ku jawab.

singkat cerita, komunikasi itu membuatku merasa akrab dengan icha. pernyataan dia yang membuatku bingung adalah bahwa aku sangat mirip dengan kekasihnya dulu.
aku tersentak kaget namun segera ku tutupi dengan senyuman lantas balik bertanya “seberapa mirip?”, ia jawab “Sama”.
“loh? koq gitu?” aku terheran
“iya, sama banget. kakak kelahiran tahun berapa?”
“1989, 18 Agustus 1989. kenapa?” aku jawab
“Astaghfirullah. yang bener kak?” ia ingin diyakinkan
“iya,beneran, mau bukti?” aku menantangnya.
“KTP?” ia meminta aku menunjukkan KTP
“KTM, aku mahasiswa kedinasan STIS” aku menyodorkan KTM padanya.
“Iya, kak. aku percaya. Subhanallah!” lalu ia diam sejenak, sepertinya memikirkan sesuatu.
“kenapa? ada yang salah?” aku memecah pikirannya.
“koq ada ya manusia yang sama? kakak itu parasnya mirip banget sama Hizbu, tanggal lahirnya juga persis 18 agustus 1989″
“iya, aku pertama kali ketemu dengannya juga jum’at sore. bukankah hari ini juga jum’at sore?” ia bercerita dan sangat membuatku terheran-heran.

“lantas?” aku bertanya.
“kagak ada apa-apa sih. aku senang aja dapat bertemu dengan kakak hari ini. sungguh tak ku duga sekalipun dapat bertemu dengan orang yang ku…” jawabnya

“looh..? aku kan bukan hizbu, kekasihmu” aku menanggapinya.
“iya kak, tapi kakak itu mirip banget dengannya. aku sedang berfikir, mungkin kakak itu hizbu tapi berpura-pura ganti nama”

dia tersenyum manis dengan kedua lesung pipinya yang melengkungkan keindahan.
“bukan, aku ya aku. rama, rama agustinus. aku tak pernah mengenal hizbu” aku menyanggah.

“iya, kakak itu reinkarnasi dari hizbu ya? ia kan sudah hampir tiga bulan yang lalu pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta” ia sedikit murung.
“kamu, siapa nama kamu? maafin aku ya jadi ngingetin kamu ama dia” aku meminta maaf merasa bersalah.
“kagak koq kak, justru aku sangat senang sekali dapat bertemu dengan kakak. itu sudah cukup untuk melunasi rinduku pada hizbu” icha menyangkal.

“tapi, sekali lagi, aku bukan hizbu, kamu belum jawab tanyaku”
“namaku mafricha, kakak Rama ya? Rama Hizbullah” iya tersenyum kembali memamerkan lesung pipinya.
kami pun terlarut dalam perbincangan yang begitu akrabnya.

**
“penumpang terhormat, kereta akan memasuki stasiun cirebon dan akan berhenti dalam beberapa saat, bagi penumpang yang akan turun di cirebon dipersilakan untuk bersiap-siap”

“akhirnya sampai juga di kota udangku” kataku sambil melongok keluar jendela.
“iya kak, tapi icha…icha..” suara icha terputus-putus
“tapi kenapa icha?” ia membuatku penasaran
“Tapi sebentar lagi icha berpisah dengan kakak, padahal masih pengen bersama kakak” ia melanjutkan bicaranya.
“oh, yaudah. catat saja no hp ku, mungkin bisa kita lanjutkan perbincangan kita lewat sms”
“08522459xxxx, coba miscall” aku memberinya no hp ku
“udah, kak? makasih ya kak” icha tampak murung lagi.
“oia, insya ALLAH, suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali koq” aku menenangkannya
“amiin. aku merasa sangat beruntung hari ini, sekali lagi terima kasih kak pernah mewarnai kehidupanku” ia lantas mengantarku hingga pintu kereta meninggalkan ayahnya sejenak yang sedang terlelap di kursi kereta yang sebagian besar sudah kosong.

“hati-hati yah kak, semoga selamat sampai tujuan” ia melambaikan tangannya.
“oia, icha juga yah, hati-hati di jalan dan semoga selamat hingga tujuan icha, tegal” aku mengangkat tanganku, seperti memberi hormat.

kemiripan bukan berarti sama. Ciptaan ALLAH adalah bersifat unik, walaupun memungkinkan untuk adanya ciptaan-Nya yang mirip, tapi itu takkan pernah sama selalipun. segala puji bagi ALLAH yang begitu sempurnanya merancang semua kejadian hari ini. (sabtu, 16 mei 2009)



Pesan Terakhir Pesepakbola
Agustus 4, 2009, 7:06 pm
Diarsipkan di bawah: cerpen

Pagi ini udara sangat dingin, mengigit kulit dan menyayat kalbu yang masih terlelap akan mimpi. Mentari belum sempurna menyapa embun hingga meluruhkannya. Burung-burung pun belum berkicau menyambut sinar mentari, hanya sesekali terdengar ayam berkukuruyuk. Senin, awal pekan, memang membuat banyak orang merasa malas mengawali aktivitas setelah libur akhir pekan.

“byuuuurr…! Bangun! Udah shubuh, shalat sana!” kakakku menyiramku agar bangun. Sudah biasa.
“bisa nggak sih nggak pake air?” aku terbangun, menuju kamar mandi sambil terus menggerutu.

Shalat shubuh telah selesai ku dirikan. Sambil menunggu mentari meluruhkan embun-embun pagi, ku rebahkan kembali tubuh ini di kursi ruang tamu. Melamun dan termenung membayangkan sesuatu.

“satu mei 2006, satu tahun, dua tahun, tiga tahun lagi aku akan bagaimana ya?” tanyaku dalam hati.
Aku terkurung dan terjebak dalam lamunanku, hingga terlelap membayangkannya. Tak terasa, sudah hampir jam enam, saatnya aku mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Sekolah SMA yang tak jauh dari rumahku, hanya limabelas menit berjalan kaki.
“romio, sarapan dulu!” kakakku berseru dari ruang makan.
“iya, lagi pakai seragam nih” aku menyahut dari kamarku.

Makan pagi dengan keluarga memang sangat menyenangkan, apalagi jika utuh satu keluarga. Namun hal itu takkan lagi bisa aku rasakan, sudah hampir tujuh tahun papah beristirahat di syurga. Beliau meninggal karena kecelakaan. Hanya rasa perih yang tersisa, namun selalu terbantahkan jika selalu ikhlas menerimanya.

Klakson motor memanggilku dari luar sana.
“angga udah dateng tuh, cepetan makanannya dihabisin!” ibu menyuruhku segera menghabiskan sarapanku.
“iya bu, sudah nih. Sekalian pamit aja ya bu. Assalamu’alaikum!” aku buru-buru berpamitan, mencium tangan ibu dan kakakku serta mengucapkan salam sambil berlari menghampiri angga.
“ayo angga! Let’s go, kita cabut ke sekolah!” aku sangat bersemangat berangkat sekolah.

Sekolah bagiku adalah tempat yang mengasyikan, tempat dimana kita bisa bertemu, bersua, berbagi cerita, berbagi suka dan duka bersama teman sebaya. Tak lama aku dan angga pun sampai di sekolah. Masih sepi. Dan selalu seperti ini. Aku dan angga pun berpisah, kami tak sekelas.

“Assalamu’alaikum” aku orang pertama yang membuka pintu kelas. Belum ada siapa-siapa. Ku simpan tasku di meja ketiga dari depan. Lalu keluar menikmati pemandangan hijaunya pepohonan yang rindang tumbuh di halaman sekolah. Melamun.

“hoy, ngelamun aja! Ngelamunin apa sih?” Joe mengagetkanku, memecahkan lamunanku.
“Joe, loe rese banget sih, kaget tau! Gue lagi menikmati ciptaan Yang Mahakuasa, suasana pagi ini damai sekali kan? Pemandangannya juga bagus!” aku bertutur.

“iya, suatu nikmat yang tiada tara, semoga kita bisa selalu menikmati kedamaian layaknya pagi ini” Joe menanggapi.
“simpan dulu sana tas loe, nanti ada orang yang nempatin tempat loe! Baru kita nikmatin lagi kedamaian ini” aku menyarankan padanya menyimpan tasnya dalam kelas.

“Oke! Oya, loe udah ngerjain PR bahasa belum? Tentang Notulen-notulen itu?” Joe beranjak ke dalam kelas sambil menanyakan PR bahasa padaku.
“emang ada PR? Aduh, gue nggak tau, nggak inget!” aku terkaget. Aku belum mengerjakan PR.
“belum ya loe? Sama dong! Tos dulu!” Joe keluar lagi dari kelas dan menghampiriku yang daritadi duduk di teras, di luar kelas.

“kerjain PR yuk! Gila…! Bisa mati kita kalau nggak ngerjain, lebih baik bolos deh daripada nekat masuk pelajaran Pak Agung belum ngerjain PR” aku menarik Joe masuk kelas untuk mengerjakan PR.

“Percuma saja, tetap nggak akan selesai. Banyak tau! Ada dua opsi, bolos upacara untuk ngerjain PR atau bolos pelajarannya Pak Agung” Joe menawarkan dua pilihan yang mungkin dikerjakan.

“bolos upacara, kita sembunyi dulu di wc saat murid-murid yang lain dibariskan, kita menghindar biar nggak ikut dibariskan. Kalau upacara udah mulai, baru kita masuk kelas, ngerjain PR. Gimana ide bagusku?” aku memberikan solusi.

“cemerlang! Tapi kalau nggak nyontek, tetap nggak akan selesai tau. Banyak banget!” Joe berkilah lagi.
“ah…loe banyak alasan! Bilang aja males mikir!” aku menanggapinya.

Dari kejauhan, terlihat Salsa sedang menuju ke kelas. Salsa adalah siswi paling rajin. Aku dan Joe pun langsung tersenyum-senyum sendiri.
“ini solusinya!” aku dan Joe berteriak bersamaan. Saling tos.

***

Bel pun berbunyi, siswa-siswi hiruk-pikuk menuju ke lapangan sambil membawa topi lusuhnya. Aku dan Joe menjalankan rencana. Berhasil! Upacara sudah dimulai. Aku dan Joe pun berhati-hati melangkahkan kaki menuju kelas seperti pencuri yang sedang mengelabui satpam.

“yes, berhasil!” aku dan Joe pun tos.

Buku Salsa pun dibuka, mulailah kami menjalankan misi selanjutnya. Mencontek.

“orang kayak kita ini yang bikin negara nggak maju-maju nih” aku memecahkan kesunyian dengan mengajak Joe bicara. Kesunyian yang timbul akibat konsentrasi dan fokus mengerjakan PR.

“eits, kata siapa? Hari ini boleh jadi kita tukang contek, tapi siapa tau sepuluh tahun lagi kita malah jadi presiden?” Joe membela diri.

“iya juga ya? Asal jangan jadi tukang becak aja, hehe… oya, kadang gue berfikir, satu, dua, tiga tahun lagi kita akan kayak gimana ya?” aku menggaruk-garuk kepala sambil menatap Joe.

“jalani sajalah hidup ini, jangan terlalu berfikir yang jauh-jauh. Kita juga nggak pernah tau kalau mungkin siang ini atau sore ini kita mati. Iya kan?” Joe menasehatiku.

“iyaya, kalau satu jam lagi kita mati gimana ya? Bawa apa kita?” aku merasa sedikit sedih.

“sudahlah, jalani saja hidup ini. Oya, insyaALLAH rabu ini gue ke luar kota. Gue mau tanding bola nih. Loe doain gue ya biar menang. Kompetisi ini bergengsi lho! Pasti hadiahnya gede.” Joe mengalihkan pembicaraan, tampaknya dia tak suka membicarakan kematian. Padahal dia sendiri yang mengawali membicarakan hal ini.

“oke bos! Nanti loe traktir teman-teman sekelas kalau menang! Loe sukses mesti bagi-bagi” aku terbawa topik pembicaraannya.

Kami tetap terus berfokus mengerjakan PR walaupun mulut kami berbicara kemana-mana. Kami sempat terpergoki oleh guru olahraga. Namun, karena Joe sudah terlalu kenal dan dekat dengan guru tersebut, ia pun polos jujur bahwa bolos upacara untuk mengerjakan PR dari Pak Agung. Guru olahraga kami memakluminya karena Pak Agung memang terkenal guru paling galak. Guru itu malah menyemangati dan mendoakan Joe supaya pertandingan rabu nanti menang.

“horeee… akhirnya kelar juga! Kita bisa masuk pelajarannya Pak Agung tanpa was-was” Joe merasa senang PR-nya sudah selesai.
“oke, tepat sekali! Bertepatan dengan upacara selesai” aku menarik nafas panjang.

***

Pelajaran bahasa telah habis, waktunya istirahat. Teman-teman laki-laki sekelas nongkrong di tempat biasa.

“gue janji, kalau gue menang rabu nanti, gue traktir loe semua buburnya mang edi. Mau nggak loe semua?” Joe bernadzar kepada semua orang yang ikut nongkrong disitu.

“oke bos! Gue doain, tapi loe jangan lupa ama janji loe ya? Nanti kayak anggota DPR lagi loe! Udah dipilih rakyat, lupa ama janjinya” salah satu teman kami menanggapi omongan Joe. Mendengar kata-kata itu, semua orang ditongkrongan ini terlarut dalam gelak tawa.

Bel berbunyi. Pelajaran kimia dimulai. Kali ini oleh guru kimia, aku dan Joe dipindahkan duduknya jadi yang paling depan karena tak ubahnya kamilah pembuat keonaran. Pelajaran berjalan lancar. Hingga tiba saatnya bel tanda pulang berbunyi.

Semua siswa pulang. Termasuk Joe yang buru-buru karena mengejar waktu latihan bola untuk bertanding rabu nanti.

“hati-hati sobat! Latihan yang bener loe biar menang dan bisa traktir kita!” aku menyemangati Joe yang sedang berdiri menanti angkot sedangkan aku dan angga berlari kencang dengan yamaha angga.

“siiip bos!” Joe melambaikan tangannya pada aku dan angga. Kami semakin jauh meninggalkan Joe. Tapi aku masih sempat melihat Joe menaiki angkot dari kejauhan karena motor melaju sangat kencang.

***

Esok hari tiba. Bangun tidur disiram lagi. Sarapan lagi. Berpamitan dan mengucapkan salam lagi sambil berlari menghampiri angga.
“ayo angga! Let’s go, kita cabut ke sekolah!” ucapku bersemangat.

Sampai sekolah. Dari parkiran berjalan di lorong-lorong gedung. Tiba-tiba, dari belakang ada temanku, arif, menarik pundakku dengan kasar. Membalikkan badanku menghadapnya.

“ada apa sob?” aku terkaget dan menanyakan apa yang terjadi.

“Joe, Joe, Joe teman sekelas loe meninggal. Dia meninggal kemarin sore. Dia meninggal lantaran serangan jantung akibat suara petir yang begitu menggelegar saat dia latihan bola. Dia sudah meninggal. Pergi untuk selamanya” arif berbicara tersedu-sedan, sekaligus mengagetkan aku dan angga.

“jangan bohong loe! jangan bohong loe!” aku mendorongnya keras. Aku tak percaya akan hal ini. Aku menangis, sedih tiada tara. Temanku telah tiada. Joe meninggal dunia. Seketika itu langit terasa jatuh menimpaku, ujung-ujung dunia menghimpitku. Tanah-tanah bumi yang ku pijak longsor. Aku tak bisa lagi memijakkan kakiku. Terasa lemas badan ini.

“Joe… Joe… kemarin kita masih bareng Joe… loe mau ke luar kota Joe… tanding bola. Pergi untuk kembali lagi. Bukan untuk selama-lamanya Joe…” aku menangis sejadi-jadinya.

Secepat kilat berita meninggalnya Joe merebak dari kelas ke kelas. Para guru, staf TU semuanya mengetahui hal ini. Akhirnya, untuk menghormati kepergian Joe untuk selamanya, sekolah secara tidak langsung meliburkan semua siswa hari ini dengan menyuruh para siswa-siswi melayat ke rumah Joe. Sebelumnya juga diadakan ngaji yasin. Tiap-tiap kelas pun bersahutan melantunkan ayat-ayat surat yasin.

Lebih dari duapuluhan angkot yang dicharter mendatangi rumah kediaman Joe. Melihat Joe untuk terakhir kalinya. Mendoakannya, menshalati dan beberapa temanku ikut andil menguburkan Joe.
Joe… selamat jalan sobat! Semoga kisah kita, persahabatan kita selalu terkenang sepanjang masa. Walau badan ini akan rapuh jua, namun kenangan yang pernah tertoreh takkan lekang oleh waktu. Semoga kau tenang di Syurga… amiin.

(Dedicated To Alm. Nur Sani)

Tulisan ini didedikasikan untuk teman baikku, Alm. Nur Sani (1 Mei 2006)



Untuk Perempuanku
Mei 5, 2009, 10:03 am
Diarsipkan di bawah: cerpen

Untuk Perempuanku

Matanya yang tajam menatapku, bibirnya seolah menyimpan kata yang lama tak mampu terucap. Sesekali ia membetulkan posisi kacamata minusnya, melepaskan dari kedua matanya, kemudian mengelap dengan kain hijau yang ada di genggaman tangannya. Baru beberapa bulan aku mengenalnya.

Akhir-akhir ini aku seolah diperhatikan oleh seseorang, tetapi aku mencoba untuk biasa dalam bersikap, aku nggak mau ge-er hanya karena diperhatikan oleh seseorang yang bernama perempuan. Ya, perempuan itu selalu menghinggapi bayanganku, aku merasakan mata perempuan itu menatapku dengan penuh perhatian, sekali lagi aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu. Walau pada kenyataannya aku selalu tahu kalau aku ada yang memperhatikan.

Kak, begitu ia setiap kali menyapaku. Ia memanggilku kakak. Sungguh sapaan yang membuatku menjadi berbeda. Baru-baru ini ada yang memanggilku dengan sebutan kakak. Dari bibirnya mulai terucap kata, kata yang sebelumnya tak pernah aku duga terujar darinya. Intinya, ia memintaku untuk menjadi lelakinya. Ia menawarkan diri untuk menjadi perempuanku. Yah…, menjadi perempuanku. Tak ada kata setelah itu. Aku yakin, ia menunggu seujar jawaban dariku. Aku memang terdiam, setelah itu tak mengucapkan sepatah kata. Aku merasakan dia agak malu-malu, aku melihat wajahnya memerah. Aku tak bisa menjawabnya saat itu, dan tak mungkin bagiku untuk menjawabnya. “Ya sudah, mungkin perlu waktu bagi kakak untuk menjawab pertanyaan saya”. Begitu kata yang terucap olehnya saat aku mengantarnya pulang.

Ya, aku tak mungkin menerima dia menjadi perempuanku, sekali lagi, aku tak bisa. Bagaimana aku harus mengatakan ini. Hidupku menjadi tak berarti setelah aku menerima surat itu. Ya, seandainya saja ia tahu. Tapi aku tak ingin tahu.

Ponselku berbunyi, satu pesan masuk, paling-paling dari perempuanku. Seperti biasa, ia menanyakan kabarku sudah sampai belum di rumah, pertanyaan klasik. Aku tak menjawabnya.

Surat itu masih tersimpan rapi terbungkus amplop coklat di laci meja belajarku. Aku tak mau melihat isi surat itu lagi. Sungguh, ini benar-benar tak terduga, kepana harus aku. Retoris.

Aku mencoba menghindar dari perempuan itu, tapi tak bisa. Ke man aku pergi ia selalu ada di belakangku, meskipun dari kejauhan. Pendeknya, ia tahu dimana aku sedang berada. Kadang-kadang aku merasa jengah melihat tingkahnya. Bukan karena apa-apa aku melakukan ini, aku hanya tak ingin gerak langkahku terbatasi hanya karena seorang perempuan. Jujur, aku sebenarnya merasa terganggu dengan kehadiran perempuan itu, anehnya aku tak bisa menghindar.

Kenapa sih kakak selalu menghindar, apa aku mengganggu kakak. Serentetan pertanyaan dari perempuan itu. Beberpa jenak aku berpikir harus berbuat apa. Hening. Perlahan tangannya mendarat lembut di tanganku, aku melepasnya perlahan pula. Tidak, aku tidak bisa melakukan ini. Ia mulai bicara pelan. “Yang jelas, aku tak bisa untuk menafikan keberadaan kakak”. Setelah itu ia berlalu dari hadapanku, ia menghilang dari tatapanku, sesaat setelah melewati belokkan jalan.

Sebenarnya, aku tak mau melakukan ini karena ini adalah perasaan, apalagi perasaan perempuan. Ayahku pernah bilang, perasaan perempuan yang tersakiti akan terus tersimpan rasa sakit itu, bahkan ketika ia sudah mempunyai lelaki sekalipun, teman hidup, maksudnya. Aku terus mencoba untuk membuatnya tidak sakit hati dengan sikapku, mudah-mudahan. Apalagi kebanyakan perempuan dikenal lemah, mudah putus asa. Memang sih, ada perempuan perkasa, perempuan berhati baja, tapi itu tak banyak.

Jujur aku tak bisa menerima perempuan itu, bukan karena aku tak kenal rasa, bukan karena aku tak suka apalagi cinta. “Tapi kenapa?”, tanyanya. “dilarang orang tua, agama, atau karena apa? Apa aku tak pantas untuk menjadi perempuanmu?”. Ia menginginkan penjelasanku kenapa aku tak bisa. Di wajahnya menyimpan roman kekhawatiran. Tapi yang jelas bukan itu, bukan karena itu, sekali lagi bukan.

Satu minggu berlalu sudah, aku tak ke kampus selama itu, ponselku juga tidak aku aktifkan. Aku dihantui rasa cemas selama satu minggu itu.

Perasaanku mengatakan perempuan itu kelabakan mencari dimana aku berada. Aku sengaja melakukan itu, berharap bisa lepas dari apa yang selama ini mengganjaldalam pikiranku, tapi itu tak bisa. Semuanya justru semakin menjadi. Ternyata selama ini dugaanku salah, aku menghindar tak menyelesaikan masalah, malahan menambah masalah baru. Kepalaku semakin pening.

Aku mengaktifkan kembali ponselku, ku tekan tombol untuk mengaktifkannya, tekan OK, menunggu sebentar dan… serentetan pesan singkat tertampung dalam kotak masuk. Hampir semuanya dari perempuan itu, isinya klasik… dan tepat sesuai dugaanku ia menanyakan dimana keberadaanku sekarang, kenapa HP-nya tidak diaktifkan, ah tidak perlu dibalas.

Tidak lama ponselku berdering, ia menelponku. Ia memintaku menemuinya saat itu juga, ketika ia menanyakan kabar, aku bilang sedang tidak enak badan saat itu. Dan ia pun agak skeptis dengan jawabanku. Aku mengiyakan permintaan untuk menemuinya, lagipula aku merasa jenuh berhari-hari ada di rumah. Dan semua ini tak akan merubah semuanya.

Aku menghampiri seseorang yang mengenakan kacamata minus, dengan rambut tergerai sapuan angin, saat itu ia mengenakan baju pink dengan rok putih. Di bahunya melekat tas berwarna putih bergambarkan dua strawberry yang menempel. Sepertinya ia sudah lama menunggu. Ia merapikan rambut panjangnya yang tergerai dengan jemarinya. Tangannya meneteng buku berwarna orange, judul buku itu kalau tidak salah adalah Gallery of Kissen karangan Anthony Kiddies.

“Buku baru, ya?”. Basa-basi. Ia tersentak kaget dengan kehadiranku, tersenyum, kemudian mempersilahkan aku duduk, berhadapan. Sebenarnya aku merasa risih harus duduk berdua berhadap-hadapan dengan seorang perempuan, kalau saja guru ngajiku tahu, pasti aku sudah diserbu oleh serentetan nasehat. Tapi bukan maksudku untuk itu.

“Kenapa selama ini nggak pernah kelihatan?”. Ia memulai pembicaraan.

“Lagi ingin sendiri saja”. Jawabku datar.

“Aku ingin jawaban dengan jujur, sebenarnya kakak suka tidak sama aku?”.

“Loh…”. Aku terkaget. Tiba-tiba saja ia melontarkan kata itu.

“Aku tahu kakak aktif ikut pengajian, dan haram bagi kakak untuk punya pacar, iya kan? Aku tahu kakak bergaul dengan ikhwan-ikhwan dan akhwat-akhwat, aktivis Rohis di kampus, benarkan?”.

“Kalau sudah tahu?”, ucapku singkat.

“Ok, kalau itu memang mau kakak”. Sejenak terdiam, hembusan angin menyeringai di tengah-tengah aku dan perempuan itu. Ia iseng membuka lembaran-lembaran buku orange itu. Aku menceritakan semuanya.

“Memang aku sering gabung dengan aktivis Rohis di kampus, sering ikut acara yang diadakan mereka, tetapi aku bukanlah mereka, tepatnya aku belum bisa seperti mereka. Aku juga punya rasa, rasa untuk mencinta dan dicintai. Tapi…”, aku menghentikan bicaraku. “Tapi kenapa”. Ucap perempuan itu. Kuatkan aku Rabb, ucapku dalam hati. Ia semakin penasaran.

“Aku…”, berat untuk mengatakan yang satu ini.

“Katakan saja”. Pintanya.

“Tapi…”.

“Tapi apa?”.

“Aku positif terkena HIV”. Seketika itu, angin seolah mendadak berhenti, buku yang awalnya berdiri mendadak terjatuh. Daun-daun mendarat di atas tanah.

“Tiga bulan lalu, aku pernah ikut donor darah, setelah itu aku mendapat surat dari PMI dan di situ dinyatakan bahwa darahku positif mengidap HIV. Bulatan merah itu masih jelas melingkar dalam kotak yang bertuliskan HIV/AIDS”.

Aku menunjukkan surat beramplop surat itu, hanya untuk memastikan apa yang baru saja aku katakan. Suasana menjadi hening, aku melihat perempuanku menitikkan buluh air mata, perlahan.

“Dan sekarang kamu sudah tahu semuanya”, ucapku. Aku beranjak meninggalkan perempuan itu, sendiri.

airin_mochi@yahoo.com

Lihatkah dengan hati bahwa hidup ini begitu indah!

Berikan yang terbaik buat hidup kita