dia adalah seorang mahasiswa semester tujuh (tingkat IV) salah satu perguruan tinggi kedinasan (PTK) di ibukota yang berfokus pada ilmu statistik dan perguruan tinggi ini berada di bawah naungan Badan Pusat Statistik (BPS). PTK tersebut adalah Sekolah tinggi ilmu statistik (STIS) yang terletak di Jalan Otto iskandardinata No. 64C Jakarta Timur. sosok manusia yang sengaja dilahirkan pasangan bahagia Bpk. Dzazuli (alm) dan ibu Aan Anisah pada tanggal 18 agustus 1989 ini belum pernah sedikitpun bermimpi dapat memakan meja kuliah di perguruan tinggi ini. sebelumnya dirinya diterima di Telekomunikasi POLBAN, Teknik Mesin UI dan mendapat tawaran di Perkapalan UNDIP. hanya kehendak Allah-lah yang menunjukkan dirinya untuk menuruti amanah ibu dan papahnya, H. Achrodi dan Hj. Mastini, orang tua angkatnya yang semenjak kecil mengasuhnya, untuk menuju kampus rakyat itu.
dia memang agak unik, suka akan hal-hal yang baru, suka tantangan tapi tak mentang-mentang, suka kentang matang apalagi kalau dibuat perkedel (nggak penting banget ya?), suka isengin orang lain, suka dan cinta kepada Allah, rasul-rasulnya, kedua orang tua apalagi ayah yang sudah sebelas tahun (selasa, 11 mei ’99) beristirahat tenang (kangen banget tentunya), suka matematika walaupun katanya “Makin Tekun Makin tidak Karuan”, suka statistika, suka ilmu ekonomi, suka futsal, suka belajar bahasa terutama bahasa arab, jerman dan jepang, dan masih banyak lagi suka-suka yang tak bisa disebutkan satu persatu.
dia jauh dari kata pandai dan genius tapi tak juga sosok bodoh lagi oon. dia hanya seorang biasa yang selalu mencoba dan mencoba untuk melakukan hal yang diluar biasanya. mencoba memahami arti kehidupan, mencoba mengerti apa yang terjadi dan mencoba menjadi lebih baik di kemudian hari untuk masa depan adik-adiknya yang juga menjadi tanggungannya untuk menjadi pribadi yang sukses.
dia dikenal sebagai seorang nur arifin, yaitu sebuah doa dari ibunya agar sosok ini dapat menjadi Cahaya Kebijaksanaan yang menerangi dunia ini dengan kebijaksanaan. makanya, ketika dirinya dipanggil “nura”, pemberi doa itu teramat kecewa dan menasehatinya agar mengajarkan kepada teman-temannya untuk memanggil dirinya “arifin”, “arif” atau apapun yang baik dari namanya. ibunya sendiri memanggilnya “ayip”-modifikasi dari “arif” karena sangat berharap anaknya kelak bisa menjadi seperti ulama besar Cirebon saat itu yang bernama “Kang Ayip”.
dia sangat dekat dengan khilaf dan salah, dia dekat dengan keterbatasan, dia dekat dengan ketidaktahuan, dia dekat dengan ketidakmengertian. dia jauh dari kesempurnaan, jauh dari kebaikan, jauh dari keistimewaan, jauh dari kehebatan. oleh karenanya, dia sangat berharap mendapat masukan dan saran agar bisa menjauhkan kedekatan serta mendekatkan kejauhan itu. akhir kata darinya, terima kasih telah membaca tulisan-tulisannya dan selama menikmati…^^
dirinya,
arifinkasugaromio
tulisannya kacau, tapi penulisnya jauh lebih kacau.
Komentar oleh arifinkasugaromio — 5 Mei 2009 @ 10:29 am
Wah, bagus banget tulisannya…..
Komentar oleh Affan — 14 Agustus 2009 @ 10:27 am
kenapa harus pake kata dia?? kata saya lebih mengena
but totally, i like it..
Komentar oleh Efi Yuliani — 5 Juli 2010 @ 10:15 pm
tampil beda…
narsis banget kalo sampe pake nama “aku”, hehe
Komentar oleh arifinkasugaromio — 6 Juli 2010 @ 7:32 am
ok.
Komentar oleh Widi D. Handoko — 23 Agustus 2010 @ 4:34 pm
oke pak ketu…
Komentar oleh arifinkasugaromio — 27 November 2010 @ 5:52 pm
assalamu’alaikumwrwb..slam kenal..numpang muterin rumahmu bro
Komentar oleh Erlin Fitriyanti — 15 Februari 2011 @ 11:15 pm
wa’alaikumusalam wr wb.
monggo atuh mba… salam kenal yaa…
Komentar oleh arifinkasugaromio — 25 Februari 2011 @ 11:41 pm
Assalamualaikum
Saya Mahasiswa baru di STIS , baru lewat 1 semester
boleh tukeran link kan ?
linknya kakak mau diberi judul apa ?
ini link ku
kapriajinurfajar.wordpress.com
judulnya
“GONNA SHARE MY EXPERIENCE”
Komentar oleh kapriajinurfajar — 27 Maret 2011 @ 5:51 am
terserah aja…
Komentar oleh arifinkasugaromio — 9 April 2011 @ 2:59 pm