1. Mahfud MD
Penegak Hukum tak Boleh Tersandera
Pria kelahiran 13 Mei 1957 ini terkenal ceplas-ceplos. Apa yang ada di kepalanya dan ingin disampaikan, ya disampaikan. Mahfud tak pernah merasa canggung atau sungkan terhadap lawan bicaranya. Mahfud adalah Mahfud. Gaya ceplas-ceplosnya itu tak lepas dari darah Madura yang mengalir di tubuhnya. Sebagai anak asli Sampang, Mahfud tak ingin mengingkari tipikal kebanyakan orang Madura yang memang ceplas-ceplos. Begitu pun, saat Republika mengabarkan jika dirinya terpilih sebagai Tokoh Perubahan 2009.
‘’Ah, iya toh? Ini kejutan. Kok saya nggak diberi tahu sebelumnya,’’ seloroh Mahfud santai.
lanjut…
Perjalanan karier Mahfud MD yang kini menduduki jabatan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tak lepas dari kepakarannya di bidang ilmu hukum. Sebelum berkiprah di politik bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mahfud adalah akademisi bidang hukum.
Kapasitas keilmuannya itu pulalah yang mengantarkan Mahfud ke kursi DPR dan menjabat Menteri Pertahanan di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mahfud pun menyampaikan terima kasih kepada para pembaca Republika yang telah memilihnya sebagai salah satu Tokoh Perubahan 2009. ‘’Saya senang kalau apa yang saya lakukan selama ini dihargai oleh masyarakat melalui Republika,’’ ujarnya.
Kendati demikian, Mahfud melanjutkan, perubahan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh satu orang. Terlebih jika kata perubahan digandengkan dengan konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. ‘’Perubahan itu muncul bergelombang dan hanya mereka yang punya keberanian yang bisa melakukan gerakan perubahan itu.’’
Falsafah ini pulalah yang diyakini Mahfud saat berada di MK. Beberapa waktu lalu, di tengah keraguan masyarakat terhadap penegakan hukum, Mahfud membuat gebrakan baru dengan memutar rekaman percakapan antara Anggodo dan beberapa orang dalam kasus kriminalisasi pimpinan KPK. Tak sedikit kalangan yang mengkritik manuver Mahfud tersebut.
Maklum, saat itu MK tidak sedang memeriksa perkara pidana selayaknya di pengadilan umum. Rekaman percakapan Anggodo hasil sadapan KPK itu diputar MK ketika menyidangkan uji materi UU KPK yang diajukan dua petinggi KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kendati ada kritik, terbukti manuver Mahfud mampu menyingkap tabir adanya mafia hukum di negeri ini. Tidak sedikit kalangan yang gerah. Maklum, selama ini praktik malhukum tak pernah diakui keberadaannya walaupun tampak nyata di depan mata.
Mengomentari soal ini, Mahfud menerangkan, apa yang dia lakukan bersama kawan-kawan hakim konstitusi di MK hanyalah perwujudan dari menegakkan keadilan dalam proses hukum. Menurut Mahfud, keberanian semacam inilah yang hendaknya bisa dilakukan para penegak hukum lain di negeri ini. ‘’Dan modal paling penting untuk berbuat berani adalah jejak rekam yang baik sehingga (penegak hukum) tidak tersandera oleh pihak mana pun,’’ papar Mahfud.
Dia melanjutkan, penyakit kronis penegakan hukum di Indonesia tak lain karena para penegak hukumnya tersandera oleh pihak lain. Penyanderaan bisa terjadi jika penegak hukum itu memiliki jejak rekam yang kurang baik. Ke depan, bila Indonesia ingin berdigdaya secara hukum, para aparatur hukumnya haruslah mampu berbuat berani. ‘’Berani untuk tidak tersandera dengan menumpuk modal jejak rekam yang bersih.’’
Mengapa Terpilih
- Melawan arus tradisi ketatanegaraan yang kaku.
- Membolehkan pemilih tak terdaftar untuk menggunakan KTP pada Pemilu 2009.
- Berperan memperdengarkan rekaman percakapan sejumlah pejabat dengan pengusaha yang terlibat kasus korupsi besar yang terkait kriminalisasi pimpinan KPK.
- Mengembalikan kepercayaan lembaga hukum yang adil di mata masyarakat yang selama ini apatis. Hukum kembali menjadi panglima di negeri ini.
2. Yohanes Suryo
Demi Nobel Fisika 2020
Ia memberikan inspirasi besar bagi ‘kegilaan’ dan kegemaran orang —mulai dari anak-anak hingga orang tua— atas pelajaran eksak, khususnya fisika. Yohanes berperan besar dalam mempopulerkan ‘demam’ Olimpiade Sains di Tanah Air, dari fisika hinggal biologi.
Masyarakat terpencil pun ikut dia berdayakan untuk mengenal lebih dekat, sekaligus mencintai pelajaran eksak. Tak heran jika kemudian muncul juara-juara Olimpiade Sains tingkat internasional dari luar Jawa. Indonesia bangga ketika ada putra Papua juga meraih prestasi tertinggi di Olimpiade Sains.
Dari 1993 hingga 2007, siswasiswa binaannya berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menyabet 54 medali emas, 33 medali perak, dan 42 medali perunggu dalam berbagai kompetisi Sains/Fisika Internasional. Pada 2006, seorang siswa binaannya, Jonathan Pradana Mailoa, berhasil meraih predikat “The Absolute Winner” (Juara Dunia) dalam International Physics Olympiad (IphO) XXXVII di Singapura.
Selain mengharumkan nama bangsa, ia juga mengembangkan cara mudah mempelajari fisika. Ia menelurkan konsep Gasing dalam mempelajari fisika, yang disingkat gesit, asyik, dan menyenangkan. Yohanes pun memperkenalkan konsepsi Mestakung, singkatan dari semesta mendukung. Artinya, ketika sesuatu sistem berada pada kondisi kritis, segala sesuatu di dalam sistem itu akan mengatur dirinya sendiri tanpa paksaan.
Di dalam pengaturan tersebut, tiap-tiap bagian sistem itu secara serentak bergerak bahu-membahu untuk keluar dari kondisi kritis, sehingga menghasilkan suatu terobosan baru yang luar biasa. Alam sekitar pun turut mendukung. Ini berlaku pada setiap makhluk hidup serta alam sekitar pada kondisi kritis.
Satu cita-cita besar yang saat ini terus dia rintis. Yohanes ingin ada putra/putri bangsa yang tampil sebagai pemenang Nobel Fisika pada tahun 2020. Ini bukan sekadar omongan besar, tetapi merupakan sesuatu yang sangat mungkin bisa dicapai putra/putri terbaik bangsa.
Mengapa Terpilih
- Memasyarakatkan cinta fisika dan ilmu eksak lainnya.
- Mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional.
- Memberdayakan pelajar-pelajar dari pedalaman.
- Mengembangan pelajaran fisika yang menyenangkan.
3. Prof I Gede Winasa
Saya Mengerjakan Hal Wajar
Keberhasilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana membangun daerahnya dalam lima tahun terakhir sangat ditentukan oleh kebijakan dan terobosan Bupati Prof Dr drg I Gede Winasa. Di bawah kepemimpinannya, kabupaten yang berada di ujung barat Pulau Bali itu berhasil membebaskan masyarakatnya dari biaya pendidikan dan biaya berobat ke dokter. Dengan PAD yang terbilang kecil, tidak lebih dari Rp 20 miliar setahun, Jembrana berhasil mengelola pemerintahannya dengan baik.
Tapi, dengan prestasinya itu, menurut Winasa, apa yang dila – kukannya adalah hal yang biasabiasa saja sebagai seorang birokrat. Bila semua birokrat melakukan hal yang dilakukannya, mereka akan mendapatkan hasil yang sama pula. “Mengapa banyak yang tidak bisa melakukan hal yang sama? Barangkali, karena mereka tidak paham apa yang paling bermanfaat bagi rakyatnya,” kata Winasa yang terpilih sebagai salah seorang Tokoh Perubahan 2009 versi Republika.
Winasa menyatakan, penghargaan yang diberikan kepadanya tentu didasarkan atas penilaian terhadap kemajuan-kemajuan yang diraih oleh Jembrana. Semua birokrat bisa melakukan hal itu bila menyadari bahwa amanat yang diembannya adalah untuk kebaikan rakyat sehingga birokrat harus baik dengan rakyat.
Kalau birokrat sudah punya kesadaran untuk berbuat kepada rakyat, tinggal bagaimana membangun birokrat yang bisa berinovasi dan berkreasi dalam menjalankan program-programnya. Salah satu caranya, jelas Winasa, birokratnya harus berjiwa enterpreuner. Berjiwa enterpreuner berbeda dengan jiwa pengusaha.
Seorang enterpreuner, tidak melihat untung rugi untuk dirinya, tapi bagaimana melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk rakyatnya. “Seorang enterpreuner harus bisa berinovasi dan berkreasi, sehingga keputusan-keputusan yang diambil bisa menguntungkan rakyatnya,” katanya Setelah berhasil menggratiskan biaya sekolah dan biaya berobat bagi warganya, ke depan, kata Winasa, pihaknya sedang memikirkan masalah lapangan kerja yang kini masih menjadi problem di Jembrana.
Selama ini, lanjut Winasa, memang pihaknya telah melakukan terobosan-terobosan, seperti mencarikan lapangan kerja di luar negeri bagi warganya. Tapi, apa yang dilakukannya belum seberapa. Pemkab Jembrana sedang me – mikirkan dan menyiapkan pelatihan bagi warganya agar mereka bisa bekerja dan tidak bercita-cita menjadi pegawai.
Terobosan lainnya, Winasa meng aku menyiapkan e-KTP bagi warganya, yakni KTP yang memuat sidik jari dalam chips KTP. Selain memuat identitas ke pendudukan yang bisa digunakan sebagai dasar untuk menggratiskan biaya berobat, KTP di Jembrana juga bisa digunakan untuk meng – akses lembaga keuangan, yakni bisa menjadi ATM beberapa Lembaga Perkreditan Desa (LPD).
Mengapa Terpilih
- Mematok 50 persen APBD untuk pendidikan.
- Menggratiskan kesehatan.
- Mampu menciptakan SDM yang hebat.
- Wilayahnya menjadi percontohan daerah lain, termasuk luar negeri.
- Tata kelola pemerintahan diatur dengan sangat profesional.
4. Aria Kusumadewa
Bukan Sekadar Ada
“Saya sudah tidak melihat ini sebagai pilihan, tetapi ini sebuah panggilan.”
Kalimat itu tercetus dari mulut Aria Kusumadewa secara spontan pada sebuah senja di pelataran teras rumahnya, di satu sudut keheningan kota di selatan Jakarta. Aria adalah satu dari sedikit sineas di negeri ini yang berusaha konsisten bergelut dengan aktivitas di jalur film independen— atau lebih sering disebut indie. Sebuah aktivitas yang menjadi semacam antitesis dari industri film mainstream yang hanya mengandalkan distribusi pemasaran filmnya melalui jaringan bioskop utama, seperti 21 atau Blitz.
Aria yakin, penonton film itu tidak hanya yang datang ke bioskop, tetapi ada sebuah alternatif tempat menonton yang selama ini mungkin terabaikan. Selama hampir 15 tahun, ia telah menyam bangi kampus, kampung, hingga tempat-tempat yang memungkinkannya berinteraksi langsung dengan para penontonnya. Ia putar filmnya, lalu di penghujung acara, diajaknya para penonton itu untuk mendiskusikan film yang telah ia buat.
Sikap indie tersebut tak cuma ditunjukkan dalam bidang distribusi oleh alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini. Dalam tema cerita, Aria berani berbeda dengan film nasional kebanyakan. Di film terakhirnya, Identitas, Aria seperti menapak ke sebuah fase baru dalam pergulatannya mene kuni film indie.
Untuk kali pertama dalam kehidupannya, Aria meraih sebuah predikat bergengsi dari sebuah festival mainstream, Festival Film Indonesia (FFI). Film Identitas film yang pernah nyaris terhenti pembuatannya hanya karena keterbatasan modal telah membawa nama Aria Kusumadewa menjadi bahan pembicaraan di kalangan pelaku industri film.
Pria kelahiran Lampung, 46 tahun silam, itu telah membuat mata pelaku industri film terbuka lebar ketika ia berhasil meraih dua penghargaan utama FFI 2009. Film Identitas dinobatkan oleh dewan juri FFI 2009 sebagai Film Terbaik sekaligus membawa namanya menjadi Sutradara Terbaik. Kini, untuk melengkapi konsistensi yang telah ditunjukkannya dalam memamahbiak film indie untuk terus bertahan dan berkembang di antara arus industri film nasional, Republika menjadikan Aria Kusumadewa sebagai salah satu Tokoh Perubahan. Mantan santri dari Pesantren Tebu Ireng ini pun seakan tak percaya.
Ketika sebuah pertanyaan tertuju kepadanya untuk mengetahui seperti apa perasaannya menerima predikat Tokoh Perubahan, Aria tak langsung menjawab. Wajahnya menengadah ke atas, seperti menerawang. Setelah menghela napas sejenak, ia baru memberikan jawaban. “Terus terang, saya bingung juga bisa dianggap sebagai tokoh perubah a n,” kata Aria.
Ia melanjutkan, “Tetapi, saya merasa sangat senang karena hidup itu buat saya sebuah pilihan, apakah sekadar ada atau berada. Atau, kita hidup diubah atau mengubah. Dan, saya selalu yakin —se bagai penganut (paham) eksistensialis— bahwa saya hidup tidak hanya sekadar ada, tetapi ingin bisa berada.”
Mengapa Terpilih
- Konsistensi mengembangkan film-film di luar arus utama.
- Tidak tergantung pada jaringan bioskop besar.
- Film-filmnya mengajak berkontemplasi.
- Mampu mendeskripsikan gambaran luas suatu peristiwa dalam film.
- Film-filmnya memberikan pencerahan.
5. Mario Teguh
Kita krisis Keteladanan
‘’Sangat terharu’’ ucap Mario Teguh ketika Republika menyebut dirinya terpilih sebagai Tokoh Perubahan 2009. Pak Mario—panggilan akrab para pengagumnya—mengungkapkan, pertama kali yang terasa bahwa Republika sudah lama mengikuti apa yang dikerjakannya selama ini.
Mario terpilih karena kemunculannya seperti sebuah oase di tengah tandusnya padang pasir. Mario telah menyadarkan kembali arti pentingnya kepercayaan diri melalui tayangan televisi yang saat ini dipenuhi acara gosip dan film-film tak bermutu.
Dengan lirih, Mario merasa di dalam alur kerjaan yang on going. Banyak orang kurang bisa menerima pe ker jaannya dalam menata moral bangsa yang dinilainya sudah mu lai mengganggu keindahan ke hidupan. Saat ini masyarakat tertekan secara ekonomi dan juga krisis keteladanan karena hidup hanya fokus pada hal yang menguntungkan.
Mario mengakui, dalam caranya bekerja menyapa pendengar, ia memang kurang menggunakan pendekatan dengan warna agama yang kental. ‘’Karena, saya berusaha merangkul semua agama. Dengan cara hidup masing- masing yang memuliakan Tuhan dengan cara yang beragam.’’
Penghargaan ini pun diterima Mario sebagai sebuah utang untuk bekerja lebih keras lagi. Pada 2009, apa yang dikerjakannya seperti kecepatan berlari, yaitu menyelesaikan banyak hal de -ngan cara fokus pada kekuatan dan bukan pada kelemahan. 2010 ini disebut sebagai tahun na sib baik, di mana kepandaian dan kompetensi tidak menghalangi berkah untuk berhasil.
Pada 2010 ini, ia ingin mendorong siapa pun untuk mendapatkan capaian dan rezeki yang baik. ‘’Hanya orang baik yang melakukan dengan baik yang mendapat rezeki baik’’. Jelas sekali, dengan penuh penegasan walau berucap perlahan, Mario berkata akan bekerja lebih keras lagi untuk menata bangsa.
Mengapa Terpilih
- Menyampaikan pesan-pesan spiritual dan moral secara inklusif, tak terkekang kungkungan agama.
- Mengingatkan kembali arti penting moralitas, kesadaran diri, sema ngat, dan kepercayaan diri di te ngah masyarakat yang terpuruk saat ini.
- Meski bukan penceramah, ia mampu membawa hanyut masyarakat ke alam spritual yang tinggi, yang disampaikannya dengan amat sederhana, dan menyentuh.
6. Toto Sugito
Bike to Work untuk Hidup Manusiawi
Toto Sugito tak menyangka komunitas yang digagasnya lima tahun lalu itu saat ini memiliki puluhan ribu anggota. Komunitas tersebut bernama Bike to Work. Komunitas yang para anggotanya memilih bersepeda ke tempat kerja ketimbang menggunakan alat transportasi massa ataupun privat lainnya. Awalnya, komunitas ini hanya ada di Jakarta. Namun tahun demi tahun sejak ide tersebut diluncurkan Toto, komunitas itu merambah ke kota besar lainnya di Indonesia.
Gerakan ini menginspirasi banyak orang untuk menata hidupnya menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan. Tak aneh bila kemudian, Toto terpilih sebagai Tokoh Perubahan Republika 2009. ‘’Saya kaget mendapatkan penghargaan ini,’’ ujarnya. Menurutnya, dia dan gerakan yang dipeloporinya bukan apaapa tanpa dukungan media dan temanteman sesama pecinta sepeda.
“Tadinya saya hanya berpikir, bagaimana cara menularkan hobi bersepeda saya kepada masyarakat,’’ tuturnya. Toto mengaku, hanya berkomitmen terhadap keyakinannya: sebuah mimpi akan kehidupan yang lebih baik yang didambakan masyarakat luas. ‘’Dengan bersepeda, lingkungan yang lebih ramah dan manusiawi dapat dirasakan banyak orang,” ujarnya.
Komitmen masyarakat saja, kata Toto, tidaklah cukup. Perlu ada political will dari pemerintah daerah untuk memberi lampu hijau agar kegiatan ini menjadi budaya. Juga, perlu ada rambu-rambu dan sejumlah kebijakan yang mendukung hidupnya kegiatan bersepeda tersebut. ‘’Terutama, dengan membangun fasilitas yang ramah bagi para pengguna sepeda, seperti jalur, pedestrian, dan semacamnya,’’ katanya.
Toto yakin bila pemerintah mau membaur dan mendengarkan aspirasi masyarakat tersebut, perubahan bisa dilakukan secara menyeluruh. Banyak negara yang pemerintahnya mampu memberikan kehidupan yang nyaman dan aman bagi masyarakatnya. Hal tersebut hanya bisa dicapai bila pemerintahnya berani mengambil kebijakan politik yang ditujukan hanya untuk melayani warga.
Toto ingin kota-kota di Indonesia benar-benar diperuntukkan bagi manusia. ‘’Bukan untuk kendaraan,’’ katanya. Cara nya. dengan menyediakan jalur sepeda yang layak serta pedestrian yang cantik. ‘’Masyarakat saat ini banyak yang malas jalan kaki atau bersepeda karena fasilitas yang ada tidak membuat mereka nyaman,’’ kata Toto. Bila fasilitas diberikan, tentu tidak ada masyarakat yang terpikir untuk berlomba-lomba memiliki mobil bagus dan mahal.
Mengapa Terpilih
- Mempelopori bike to work di Jakarta yang kemudian merambah ke kota-kota besar lain di Indonesia.
- Gerakan ini kemudian memunculkan kebijakan membangun jalan khusus bagi pengendara sepeda.
- Menyadarkan arti penting penghematan energi.
7. Eri Sudewo
Hidup itu Sedekah
Dompet Dhuafa Republika boleh dikatakan sebagai pionir kegiatan sosial pengumpulan dana-dana zakat. Lembaga ini tidak hanya menyantuni fakir miskin di seluruh negeri, tetapi juga mampu memberdayakan kaum papa secara ekonomi dan mengangkat martabat mereka ke tingkat yang jauh lebih baik.
Lembaga ini yang mengajarkan ma syarakat untuk tidak menengadahkan tangan terus, tetapi membawa mereka untuk mengangkat tangan-tangan mereka. Dan, Eri Sudewo pun menjadi sosok penting di balik suk ses Dompet Dhufa menyebar kebaikan, ke dermawanan, dan kreativitas kepada kaum tak mampu yang selama ini tidak tersentuh siapa pun, bahkan ormas-ormas Islam.
Eri membawa gairah baru dalam memberdayakan dana-dana infak dan zakat, yang dikelolanya secara modern, akuntabel, dan transparan. Dan, itu menginsipirasi lahirnya lembaga-lembaga serupa yang semakin mem perkaya khazanah kegiatan sosial di Tanah Air. ‘’Saya hanya bisa bersyukur, namun tidak sedikit pun merasa bangga atas semua nikmat ini,’’ ujar Eri.
Menurutnya, apa yang dimiliki dan dicapai sekarang semata-mata adalah milik Yang Maha Esa. ‘’Saya tidak punya apapun, ini hanya sekadar cara lain untuk beribadah,’’ tuturnya. Eri ingat begitu nikmatnya bisa berbagi dengan para loper koran. ‘’Saya antarkan mereka membeli sepatu, dari uang hasil infak yang dikumpulkan teman-teman di Republika,’’ ujarnya. Baginya, semua hal tersebut dilakukan semata-mata untuk memenuhi rukun Islam.
Harapan Eri, lembaga yang pernah dipimpinnya itu bisa menjadi lebih besar dari saat ini. Ia bercita-cita Dompet Dhuafa bisa menjadi sebuah Baitul Mal atau lembaga investasi yang lebih besar ketimbang Temasek di Singapura atau lembaga serupa di belahan dunia lainnya. ‘’Hingga pada akhirnya, lembaga ini bisa membantu lebih banyak orang. Semata-mata untuk kepentingan rakyat bukan hanya kepentingan bisnis,’’ katanya.
Dia berharap, apa yang dia dan temantemannya lakukan di Dompet Dhuafa menjadi inspirasi bagi pegiat kemanusiaan lainnya. Eri mengatakan, jangan pernah menyerah membantu orang lain bila ada kesempatan untuk itu. Membantu orang lain hingga sampai ke daerah pelosok dan terpencil adalah suatu tindakan yang harus dibudayakan.
<
Eri sangat ingin, apa yang dilakukan dia dan teman-temannya di Dompet Dhuafa mampu menularkan semangat sedekah di masyarakat. ‘’Kenyataannya apa yang kita lakukan di dunia ini adalah sedekah,’’ katanya. Sedekah itu termasuk mencari nafkah untuk keluarga atau menyusui anak. Dengan memaknai hidup sebagai sedekah, tak ada lagi pamrih yang perlu dihitung dan menjadi konflik.
Mengapa Terpilih
- Memelopori pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara profesional, akuntabel, dan terbuka.
- Memberdayakan kaum papa secara ekonomi.
- Mengangkat harkat dan martabat kaum marginal.
- Menggugah kesadaran zakat umat Islam di Tanah Air.
- Mengangkat kredibilitas lembaga zakat.
- Menginspirasi lahirnya lembaga-lembaga sosial keagamaan serupa.
8. Tri Mumpuni
Pembangunan yang Ciptakan Pengemudi
Hidup harus menjadi rahmatan lil alamin. Inilah yang menjadi spirit Tri Mumpuni untuk berkeliling ratusan daerah di Tanah Air demi membangun pembangkit listrik mikrohidro. Ia membangun pembangkit listrik pedesaan yang selama ini belum terjangkau PLN. Dia benar-benar ‘mumpuni’ dalam memberdayakan dan ‘menerangi’ masyarakat pedalaman. Jika selama ini pembangunan pembangkit mikrohidro banyak dijalankan perusahaan, tidak demikian yang dilakukan Tri Mumpuni.
Perempuan ini justru melibatkan unsur masyarakat dalam setiap pembuatan pembangkit mikrohidro. ‘’Bukan kita yang bangun, mereka yang ikut memasang,’’ katanya. Melalui pendekatan seperti ini, Mumpuni sangat yakin masyarakat akan merasa memiliki fasilitas yang telah dibangun bersama itu, dengan merawat dan menjaganya. Lebih pentingnya lagi, masyarakat menjadi mandiri.
Kemandirian masyarakatlah yang dia harapkan. Tak sekadar menerangi desa, tapi juga mengajak warga untuk membangun desanya. ‘’Pembangunan bukan sekadar mem bangun fisiknya semata. Tapi, kita butuh pengemudinya. Mere ka lah yang akan menjadi agen perubahan di daerahnya,’’ tutur Mumpuni. Hingga saat ini, telah lebih dari 50 lokasi yang sudah dipelopori untuk mengembangkan teknologi mikrohidro secara mandiri oleh masyarakat setempat. Seperti di Sumatra Selatan, pembangkit mikrohidro dengan kapasitas 224 kilowatt dapat memberikan pendapatan masyarakat setempat Rp 45 juta sampai Rp 50 juta per bulan.
Berkat kegigihannya itu, Mumpuni juga dipercaya untuk merintis pengembangan pemberdayaan masyarakat dengan penerapan teknologi mikrohidro di beberapa negara lainnya, seperti Filipina, Fiji, Kamerun, dan Gambia. Sukses besar tersebut tidak membuat Mumpuni sombong. Bahkan ketika Republika memberitahukan bahwa dia terpilih sebagai salah satu Tokoh Perubahan Republika 2009, Mumpuni hanya bersyukur seraya berkata, ‘’Subhanallah, masih terlalu banyak PR (pekerjaan rumah) saya di Republik ini.’’
Mengapa Terpilih
- Membangun pembangkit mikrohidro yang melibatkan unsur-unsur masyarakat agar mereka juga bisa menikmati terangnya listrik.
- Ikut mengembangkan dan memberdayakan masyarakat di luar negeri.
- Memberdayakan ekonomi masyarakat desa.
(dikutip dari situs Republika http://www.republika.co.id/tokoh-perubahan/landingpage/2009.php#tabs-5)