Diarsipkan di bawah: cerpen
hari ini adalah hari yang ku nanti-nanti, pasalnya aku akan pulang kampung setelah dua minggu penuh penat akan UTS.
bingung aku memilih sarana transportasi apa yang akan ku pakai. akhirnya setelah mempertimbangkan banyak hal, aku naik kereta Tegal Arum (tentu untuk berhemat). Alhamdulillah dan Subhanallah… pasalnya aku bahagia karena hanya merogoh 13rb saja untuk sampai ke cirebon tapi lemes juga menghadapi perjuangan yaitu berdiri tanpa sandaran dari Jakarta hingga Haurgeulis, sekitar 2,5 jam.
dalam benakku, berpikir positif bahwa ALLAH pasti akan mengganjarku dengan kebaikan jika aku bersabar menghadapi ini semua.
haurgeulis tiba, sebagian penumpang berbondong untuk turun dan akhirnya aku bisa duduk juga.
sama halnya dengan seorang gadis mungil berparas imut yang berhadapan duduknya denganku, sebut saja icha namanya. dara kelahiran 3 april 1992 ini didampingi ayahnya yang duduk di sampingku.
memecah kesepian, ayah icha melempar serentetan pertanyaan yang mesti ku jawab.
singkat cerita, komunikasi itu membuatku merasa akrab dengan icha. pernyataan dia yang membuatku bingung adalah bahwa aku sangat mirip dengan kekasihnya dulu.
aku tersentak kaget namun segera ku tutupi dengan senyuman lantas balik bertanya “seberapa mirip?”, ia jawab “Sama”.
“loh? koq gitu?” aku terheran
“iya, sama banget. kakak kelahiran tahun berapa?”
“1989, 18 Agustus 1989. kenapa?” aku jawab
“Astaghfirullah. yang bener kak?” ia ingin diyakinkan
“iya,beneran, mau bukti?” aku menantangnya.
“KTP?” ia meminta aku menunjukkan KTP
“KTM, aku mahasiswa kedinasan STIS” aku menyodorkan KTM padanya.
“Iya, kak. aku percaya. Subhanallah!” lalu ia diam sejenak, sepertinya memikirkan sesuatu.
“kenapa? ada yang salah?” aku memecah pikirannya.
“koq ada ya manusia yang sama? kakak itu parasnya mirip banget sama Hizbu, tanggal lahirnya juga persis 18 agustus 1989″
“iya, aku pertama kali ketemu dengannya juga jum’at sore. bukankah hari ini juga jum’at sore?” ia bercerita dan sangat membuatku terheran-heran.
“lantas?” aku bertanya.
“kagak ada apa-apa sih. aku senang aja dapat bertemu dengan kakak hari ini. sungguh tak ku duga sekalipun dapat bertemu dengan orang yang ku…” jawabnya
“looh..? aku kan bukan hizbu, kekasihmu” aku menanggapinya.
“iya kak, tapi kakak itu mirip banget dengannya. aku sedang berfikir, mungkin kakak itu hizbu tapi berpura-pura ganti nama”
dia tersenyum manis dengan kedua lesung pipinya yang melengkungkan keindahan.
“bukan, aku ya aku. rama, rama agustinus. aku tak pernah mengenal hizbu” aku menyanggah.
“iya, kakak itu reinkarnasi dari hizbu ya? ia kan sudah hampir tiga bulan yang lalu pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta” ia sedikit murung.
“kamu, siapa nama kamu? maafin aku ya jadi ngingetin kamu ama dia” aku meminta maaf merasa bersalah.
“kagak koq kak, justru aku sangat senang sekali dapat bertemu dengan kakak. itu sudah cukup untuk melunasi rinduku pada hizbu” icha menyangkal.
“tapi, sekali lagi, aku bukan hizbu, kamu belum jawab tanyaku”
“namaku mafricha, kakak Rama ya? Rama Hizbullah” iya tersenyum kembali memamerkan lesung pipinya.
kami pun terlarut dalam perbincangan yang begitu akrabnya.
**
“penumpang terhormat, kereta akan memasuki stasiun cirebon dan akan berhenti dalam beberapa saat, bagi penumpang yang akan turun di cirebon dipersilakan untuk bersiap-siap”
“akhirnya sampai juga di kota udangku” kataku sambil melongok keluar jendela.
“iya kak, tapi icha…icha..” suara icha terputus-putus
“tapi kenapa icha?” ia membuatku penasaran
“Tapi sebentar lagi icha berpisah dengan kakak, padahal masih pengen bersama kakak” ia melanjutkan bicaranya.
“oh, yaudah. catat saja no hp ku, mungkin bisa kita lanjutkan perbincangan kita lewat sms”
“08522459xxxx, coba miscall” aku memberinya no hp ku
“udah, kak? makasih ya kak” icha tampak murung lagi.
“oia, insya ALLAH, suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali koq” aku menenangkannya
“amiin. aku merasa sangat beruntung hari ini, sekali lagi terima kasih kak pernah mewarnai kehidupanku” ia lantas mengantarku hingga pintu kereta meninggalkan ayahnya sejenak yang sedang terlelap di kursi kereta yang sebagian besar sudah kosong.
“hati-hati yah kak, semoga selamat sampai tujuan” ia melambaikan tangannya.
“oia, icha juga yah, hati-hati di jalan dan semoga selamat hingga tujuan icha, tegal” aku mengangkat tanganku, seperti memberi hormat.
kemiripan bukan berarti sama. Ciptaan ALLAH adalah bersifat unik, walaupun memungkinkan untuk adanya ciptaan-Nya yang mirip, tapi itu takkan pernah sama selalipun. segala puji bagi ALLAH yang begitu sempurnanya merancang semua kejadian hari ini. (sabtu, 16 mei 2009)
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Wah, hebat, Icha,,,, Ichapek deh…..
Komentar oleh Affan Agustus 14, 2009 @ 10:57 am