Diarsipkan di bawah: tentang stis
file pdf di atas adalah brosur pendaftaran mahasiswa baru STIS 2009. silakan download dan semoga bermanfaat.
usaha tanpa doa itu sombong, doa tanpa usaha itu bohong.
ganbatte kudasai…^^
kami tunggu di kampus tercinta STIS.
Diarsipkan di bawah: curhatan
Ku pandangi kalender. Oh.. 20 april? Ku buka lagi halaman berikutnya. Oh.. Mei? Sejenak ku mematung, teringat sesuatu. Dan… Astaghfirullah, aku teringat peristiwa sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 11 mei 1999. Saat hujan airmata menyambut sesosok badan kaku yang diantarkan ambulance menuju rumahku. Ayahku… Wafat kecelakaan saat berusaha menghidupi anak dan istrinya. Sedihku menggelegar dan tangisku memecah cakrawala.
Ayah.. Mengapa engkau pergi saat aku belum bisa apa-apa? Padahal aku punya cita-cita luhur yang inginku sembahkan untukmu. Madinatul munawwarah. Iya.. Aku ingin memberangkatkan engkau kesana dengan usaha perah peluhku.
Tekadku telah bulat. Alhamdulillah, walaupun hanya 1000/hari ku sisihkan uang sakuku, namun keistiqomahannya akan ku jaga demi cita-cita ini. Demi sisa hidupku dan demi jiwaku yang merindukanmu..
Diarsipkan di bawah: cerpen
Untuk Perempuanku
Matanya yang tajam menatapku, bibirnya seolah menyimpan kata yang lama tak mampu terucap. Sesekali ia membetulkan posisi kacamata minusnya, melepaskan dari kedua matanya, kemudian mengelap dengan kain hijau yang ada di genggaman tangannya. Baru beberapa bulan aku mengenalnya.
Akhir-akhir ini aku seolah diperhatikan oleh seseorang, tetapi aku mencoba untuk biasa dalam bersikap, aku nggak mau ge-er hanya karena diperhatikan oleh seseorang yang bernama perempuan. Ya, perempuan itu selalu menghinggapi bayanganku, aku merasakan mata perempuan itu menatapku dengan penuh perhatian, sekali lagi aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu. Walau pada kenyataannya aku selalu tahu kalau aku ada yang memperhatikan.
Kak, begitu ia setiap kali menyapaku. Ia memanggilku kakak. Sungguh sapaan yang membuatku menjadi berbeda. Baru-baru ini ada yang memanggilku dengan sebutan kakak. Dari bibirnya mulai terucap kata, kata yang sebelumnya tak pernah aku duga terujar darinya. Intinya, ia memintaku untuk menjadi lelakinya. Ia menawarkan diri untuk menjadi perempuanku. Yah…, menjadi perempuanku. Tak ada kata setelah itu. Aku yakin, ia menunggu seujar jawaban dariku. Aku memang terdiam, setelah itu tak mengucapkan sepatah kata. Aku merasakan dia agak malu-malu, aku melihat wajahnya memerah. Aku tak bisa menjawabnya saat itu, dan tak mungkin bagiku untuk menjawabnya. “Ya sudah, mungkin perlu waktu bagi kakak untuk menjawab pertanyaan saya”. Begitu kata yang terucap olehnya saat aku mengantarnya pulang.
Ya, aku tak mungkin menerima dia menjadi perempuanku, sekali lagi, aku tak bisa. Bagaimana aku harus mengatakan ini. Hidupku menjadi tak berarti setelah aku menerima surat itu. Ya, seandainya saja ia tahu. Tapi aku tak ingin tahu.
Ponselku berbunyi, satu pesan masuk, paling-paling dari perempuanku. Seperti biasa, ia menanyakan kabarku sudah sampai belum di rumah, pertanyaan klasik. Aku tak menjawabnya.
Surat itu masih tersimpan rapi terbungkus amplop coklat di laci meja belajarku. Aku tak mau melihat isi surat itu lagi. Sungguh, ini benar-benar tak terduga, kepana harus aku. Retoris.
Aku mencoba menghindar dari perempuan itu, tapi tak bisa. Ke man aku pergi ia selalu ada di belakangku, meskipun dari kejauhan. Pendeknya, ia tahu dimana aku sedang berada. Kadang-kadang aku merasa jengah melihat tingkahnya. Bukan karena apa-apa aku melakukan ini, aku hanya tak ingin gerak langkahku terbatasi hanya karena seorang perempuan. Jujur, aku sebenarnya merasa terganggu dengan kehadiran perempuan itu, anehnya aku tak bisa menghindar.
Kenapa sih kakak selalu menghindar, apa aku mengganggu kakak. Serentetan pertanyaan dari perempuan itu. Beberpa jenak aku berpikir harus berbuat apa. Hening. Perlahan tangannya mendarat lembut di tanganku, aku melepasnya perlahan pula. Tidak, aku tidak bisa melakukan ini. Ia mulai bicara pelan. “Yang jelas, aku tak bisa untuk menafikan keberadaan kakak”. Setelah itu ia berlalu dari hadapanku, ia menghilang dari tatapanku, sesaat setelah melewati belokkan jalan.
Sebenarnya, aku tak mau melakukan ini karena ini adalah perasaan, apalagi perasaan perempuan. Ayahku pernah bilang, perasaan perempuan yang tersakiti akan terus tersimpan rasa sakit itu, bahkan ketika ia sudah mempunyai lelaki sekalipun, teman hidup, maksudnya. Aku terus mencoba untuk membuatnya tidak sakit hati dengan sikapku, mudah-mudahan. Apalagi kebanyakan perempuan dikenal lemah, mudah putus asa. Memang sih, ada perempuan perkasa, perempuan berhati baja, tapi itu tak banyak.
Jujur aku tak bisa menerima perempuan itu, bukan karena aku tak kenal rasa, bukan karena aku tak suka apalagi cinta. “Tapi kenapa?”, tanyanya. “dilarang orang tua, agama, atau karena apa? Apa aku tak pantas untuk menjadi perempuanmu?”. Ia menginginkan penjelasanku kenapa aku tak bisa. Di wajahnya menyimpan roman kekhawatiran. Tapi yang jelas bukan itu, bukan karena itu, sekali lagi bukan.
Satu minggu berlalu sudah, aku tak ke kampus selama itu, ponselku juga tidak aku aktifkan. Aku dihantui rasa cemas selama satu minggu itu.
Perasaanku mengatakan perempuan itu kelabakan mencari dimana aku berada. Aku sengaja melakukan itu, berharap bisa lepas dari apa yang selama ini mengganjaldalam pikiranku, tapi itu tak bisa. Semuanya justru semakin menjadi. Ternyata selama ini dugaanku salah, aku menghindar tak menyelesaikan masalah, malahan menambah masalah baru. Kepalaku semakin pening.
Aku mengaktifkan kembali ponselku, ku tekan tombol untuk mengaktifkannya, tekan OK, menunggu sebentar dan… serentetan pesan singkat tertampung dalam kotak masuk. Hampir semuanya dari perempuan itu, isinya klasik… dan tepat sesuai dugaanku ia menanyakan dimana keberadaanku sekarang, kenapa HP-nya tidak diaktifkan, ah tidak perlu dibalas.
Tidak lama ponselku berdering, ia menelponku. Ia memintaku menemuinya saat itu juga, ketika ia menanyakan kabar, aku bilang sedang tidak enak badan saat itu. Dan ia pun agak skeptis dengan jawabanku. Aku mengiyakan permintaan untuk menemuinya, lagipula aku merasa jenuh berhari-hari ada di rumah. Dan semua ini tak akan merubah semuanya.
Aku menghampiri seseorang yang mengenakan kacamata minus, dengan rambut tergerai sapuan angin, saat itu ia mengenakan baju pink dengan rok putih. Di bahunya melekat tas berwarna putih bergambarkan dua strawberry yang menempel. Sepertinya ia sudah lama menunggu. Ia merapikan rambut panjangnya yang tergerai dengan jemarinya. Tangannya meneteng buku berwarna orange, judul buku itu kalau tidak salah adalah Gallery of Kissen karangan Anthony Kiddies.
“Buku baru, ya?”. Basa-basi. Ia tersentak kaget dengan kehadiranku, tersenyum, kemudian mempersilahkan aku duduk, berhadapan. Sebenarnya aku merasa risih harus duduk berdua berhadap-hadapan dengan seorang perempuan, kalau saja guru ngajiku tahu, pasti aku sudah diserbu oleh serentetan nasehat. Tapi bukan maksudku untuk itu.
“Kenapa selama ini nggak pernah kelihatan?”. Ia memulai pembicaraan.
“Lagi ingin sendiri saja”. Jawabku datar.
“Aku ingin jawaban dengan jujur, sebenarnya kakak suka tidak sama aku?”.
“Loh…”. Aku terkaget. Tiba-tiba saja ia melontarkan kata itu.
“Aku tahu kakak aktif ikut pengajian, dan haram bagi kakak untuk punya pacar, iya kan? Aku tahu kakak bergaul dengan ikhwan-ikhwan dan akhwat-akhwat, aktivis Rohis di kampus, benarkan?”.
“Kalau sudah tahu?”, ucapku singkat.
“Ok, kalau itu memang mau kakak”. Sejenak terdiam, hembusan angin menyeringai di tengah-tengah aku dan perempuan itu. Ia iseng membuka lembaran-lembaran buku orange itu. Aku menceritakan semuanya.
“Memang aku sering gabung dengan aktivis Rohis di kampus, sering ikut acara yang diadakan mereka, tetapi aku bukanlah mereka, tepatnya aku belum bisa seperti mereka. Aku juga punya rasa, rasa untuk mencinta dan dicintai. Tapi…”, aku menghentikan bicaraku. “Tapi kenapa”. Ucap perempuan itu. Kuatkan aku Rabb, ucapku dalam hati. Ia semakin penasaran.
“Aku…”, berat untuk mengatakan yang satu ini.
“Katakan saja”. Pintanya.
“Tapi…”.
“Tapi apa?”.
“Aku positif terkena HIV”. Seketika itu, angin seolah mendadak berhenti, buku yang awalnya berdiri mendadak terjatuh. Daun-daun mendarat di atas tanah.
“Tiga bulan lalu, aku pernah ikut donor darah, setelah itu aku mendapat surat dari PMI dan di situ dinyatakan bahwa darahku positif mengidap HIV. Bulatan merah itu masih jelas melingkar dalam kotak yang bertuliskan HIV/AIDS”.
Aku menunjukkan surat beramplop surat itu, hanya untuk memastikan apa yang baru saja aku katakan. Suasana menjadi hening, aku melihat perempuanku menitikkan buluh air mata, perlahan.
“Dan sekarang kamu sudah tahu semuanya”, ucapku. Aku beranjak meninggalkan perempuan itu, sendiri.
airin_mochi@yahoo.com
Lihatkah dengan hati bahwa hidup ini begitu indah!
Berikan yang terbaik buat hidup kita
Diarsipkan di bawah: tentang stis
Tentang STIS
Sejarah STIS
Pada tanggal 11 agustus 1958, perdana menteri republic Indonesia (Ir. H. Djuanda), mengeluarkan surat keputusan No. 377/PM/1958 tentang berdirinya Akademi Ilmu Statistik. Pada tahun 1964 Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan membuka Perguruan Tinggi Ilmu Statistik (PTIS) dengan mahasiswa yang terdiri dari lulusan AIS dan dosen berasal dari PBB serta alumni AIS. Tujuannya adalah meningkatkan pendidikan untuk lulusan AIS. Pada tahun 1995-1996 dilakukan usaha meningkatkan pendidikan ahli madya statistic (D-III) menjadi pendidikan ahli statistic (D-IV) dalam rangka merespon era digital economy. Dengan persetujuan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) melalui surat keputusan No. 295/D/T/97 tanggal 24 Pebruari 1997 tentang diijinkannya BPS menyelenggarakan Program Diploma IV, kemudian diterbitkannya Keppres No. 163 Tahun 1998 tentang STIS di bawah naungan BPS. Maka sejak saat itu berdirilah STIS. Sesuai dengan Keppres di atas status STIS adalah sekolah tinggi kedinasan yang pembinaan teknisnya dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan pembinaan secara fungsional dilaksanakan oleh Kepala BPS.
Dalam pengelolaannya STIS tetap konsisten memberikan ikatan dinas (ID) kepada mahasiswa, dan lulusannya diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di BPS seluruh Indonesia.
Program Pendidikan
Tujuan pendidikan STIS yaitu menyelenggarakan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dari pendidikan menengah pada jalur pendidikan professional di bidang Statistika dan Komputasi Statistik. Dengan itu, STIS memberlakukan ketentuan sebagai berikut:
- Proses pembelajaran diselenggarakan dalam 4 jenjang (tingkat), yang setiap tingkat terdiri dari dua semester.
- Pada setiap tingkat diberlakukan system paket dengan beban 32-40 satuan kredit semester (SKS).
- Proses pembelajaran meliputi kuliah teori dan praktikum, praktik kerja lapangan, ujian komprehensif, serta tugas akhir.
- Evaluasi hasil belajar bagi tingkat I diberlakukan pada setiap akhir semester. Mahasiswa tingkat I yang tidak memenuhi kualifikasi (gagal) pada akhir semester akan dikeluarkan (drop out) dari STIS.
- Evaluasi hasil belajar bagi mahasiswa tingkat II, III, atau IV diberlakukan pada akhir tahun akademik. Mahasiswa yang gagal hanya dapat mengulang satu kali di tingkat yang sama.
- Bagi mahasiswa tingkat IV dapat memilih jalur skripsi atau nonskripsi. Mahasiswa yang memilih jalur nonskripsi diwajibkan mengambil mata kuliah pilihan yang ditetapkan STIS dengan beban 6 sks.
- Sesuai keputusan PP No. 60/1999 tentang pendidikan tinggi, lulusan STIS berhak mendapat sebutan professional Sarjana Sains Terapan dan sesuai Kepmen 178/U/2001 sebutan tersebut disingkat S.S.T..
Dalam penyelenggaraan pendidikan, Program Diploma IV STIS memiliki dua jurusan, yaitu:
- Jurusan Statistika, dengan dua bidang peminatan yaitu ekonomi dan social kependudukan.
- Jurusan Komputasi Statistik yang akan menghasilkan ahli statistic terapan yang menguasai teknik pengolahan data, pembuatan program (antara lain program aplikasi statistik), dan penyusunan system informasi statistic.
Penjurusan dilakukan pada akhir tingkat I dengan mempertimbangkan (sesuai urutan):
- Kebutuhan BPS
- Nilai mata kuliah terkait sesuai jurusan
- Indeks prestasi kumulatif (IPK), dan
- Peminatan mahasiswa
Pemilihan bidang peminatan pada jurusan Statistika dilakukan pada akhir tingkat II, dengan tetap mempertimbangkan urutan di atas.
Sistem Penilaian
- Komponen nilai setiap mata kuliah terdiri dari UTS, UAS, tugas dan atau kuis.
- Komposisi penilaian
- Untuk semua mata kuliah:
- Ujian Tengah Semester (UTS) 30%
- Ujian Akhir Semester (UAS) 50%
- Tugas 20%
- Mata kuliah yang terdiri dari teori dan praktikum merupakan satu kesatuan penilaian, yaitu:
- Teori 60%
- Praktik 40%
- Mata kuliah yang terdiri dari beberapa subjek materi dinilai secara proporsional.
- Untuk semua mata kuliah:
Ketentuan kenaikkan/kelulusan
Setelah mengikuti ujian dari semua mata kuliah pada semester yang bersangkutan, mahasiswa dinyatakan naik tingkat atau lulus apabila memnuhi syarat-syarat sebagai berikut:
- Tidak ada huruf mutu E (<40) untuk setiap mata kuliah yang diajukan
- Tingkat I
Mahasiswa memperoleh minimal huruf mutu C (55-59,5) untuk mata kuliah berikut:
- Pengantar Matematika
- Aljabar Linier
- Statistika Deskriptif (Teori dan Praktik)
- Teori Peluang
- Pendidikan Pancasila
- Agama
- Bahasa Indonesia
Dan IP ≥ 2.00. Apabila syarat di atas tidak terpenuhi maka mahasiswa tersebut dinyatakan drop out (DO).
Tingkat II
Terdapat beberapa mata kuliah yang minimal C dan IP ≥ 2.00. Apabila syarat tidak terpenuhi maka mahasiswa bersangkutan harus mengulang di tingkat II, dan bagi mahasiswa yang pernah mengulang dinyatakan DO.
Tingkat III
Sama halnya dengan tingkat II.
Tingkat IV
Sama halnya dengan tingkat II dan III namun IP ≥ 2.50.
Ketentuan Tambahan
- Mahasiswa yang putus kuliah akan diberikan surat keterangan pernah kuliah. Disertai transkip dari mata kuliah yang telah ditempuh jika telah menyelesaikan administrasi sesuai ketentuan yang berlaku.
- Mahasiswa yang telah DO atau dikeluarkan STIS, tidak dapat diterima kembali sebagai mahasiswa baru di STIS.
- Hal-hal yang belum ditentukan akan ditetapkan berdasarkan rapat pimpinan STIS atau Senat STIS.
Kemahasiswaan
Masa Integrasi Pendidikan Kampus (MAGRADIKA)
Kegiatan Magradika dilaksanakan sebelum proses pembelajaran dimulai. Tujuan dari kegiatan ini adalah menyiapkan mahasiswa baru untuk mengenal dan memahami kehidupan kampus dan sekitarnya. Hal-hal yang perlu diketahui mahasiswa baru dari kegiatan Magradika adalah sebagai berikut:
- Pelaksanaan Magradika ditetapkan melalui surat keputusan (SK) Ketua STIS dan penanggung jawab kegiatan Magradika adalah Pembantu Ketua Bidang Kemahasiswaan (Puket III).
- Magradika wajib diikuti seluruh mahasiswa baru. Pelaksanaannya dilakukan di dalam dan di luar kampus (outbound).
- Pada akhir kegiatan Magradika dilakukan evaluasi, dan ditetapkan klasifikasi: lulus, lulus bersyarat, tidak lulus.
- Mahasiswa yang lulus bersyarat dikenakan sanksi dengan menyumbang sebanyak 1 s/d 4 buah buku yang ditetapkan oleh STIS. Buku diserahkan pada BAAK selambat-lambatnya seminggu sebelum pelaksanaan UTS gasal. Apabila terjadi keterlambatan dalam penyerahan buku maka mahasiswa tidak diperkenankan mengikuti UTS gasal.
- Mahasiswa yang tidak lulus harus mengikuti kegiatan Magradika tahun berikutnya, dan tidak memiliki hak pilih dan memilih dalam organisasi kemahasiswaan STIS.
Hak Mahasiswa
- Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan kode etik.
- Memperoleh pendidikan dan pengajaran sebaik-baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan minat, bakat, kegemaran dan kemampuan.
- Memanfaatkan fasilitas STIS dalam rangka kelancaran proses belajar.
- Mendapat bimbingan dari dosen yang bertangung jawab atas jurusan yang diikuti.
- Memperoleh informasi yang berkaitan dengan jurusan yang diikuti di STIS sesuai dengan kemampuan dan ketentuan yang berlaku.
- Memperoleh bimbingan dan penyuluhan serta kesejahteraan sesuai dengan kemampuan dan ketentuan yang berlaku di STIS.
- Memanfaatkan sumber daya STIS yang ada sesuai dengan ketentuan yang berlaku di STIS.
- Mendapat tunjangan belajar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kewajiban mahasiswa
- Menandatangani Ikatan Dinas setelah diterima sebagai mahasiswa.
- Tidak menikah sampai dengan diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil.
- Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, bila diperlukan untuk kegiatan tertentu.
- Memenuhi system pembinaan dan peraturan kedisiplinan mahasiswa STIS.
- Ikut memelihara sarana dan prasarana, kebersihan, ketertiban, dan keamanan STIS.
- Menghargai ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian.
- Menjaga kewibawaan dan nama baik STIS.
- Menjunjung tinggi kebudayaan nasional.
(disarikan dari buku pedoman mahasiswa semoga dapat bermanfaat bagi siapapun yang ingin mengetahui tentang STIS khususnya calon mahasiswa baru)
Diarsipkan di bawah: motivasi
tidak semua yang dapat berhitung dapat dihitung dan tidak semua yang dapat dihitung dapat berhitung
(einstein)